
Invalid Date
Dilihat 3 kali


Dari lembaran naskah kuno berusia lebih dari dua abad di Rumah Gadang Mande Rubiah, lahir sebuah karya batik yang membawa identitas, sejarah, dan kebanggaan masyarakat Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Di tengah kekayaan budaya Minangkabau yang diwariskan dari generasi ke generasi, Kecamatan Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan, memiliki sebuah karya seni yang istimewa. Namanya Batik Mande Rubiah Lunang, sebuah batik khas yang terinspirasi dari ragam hias naskah kuno peninggalan sejarah Rumah Gadang Mande Rubiah.
Batik ini bukan sekadar produk kerajinan atau busana bermotif indah. Di balik setiap coraknya tersimpan cerita tentang perjalanan sejarah, kekayaan intelektual leluhur, dan upaya menghidupkan kembali warisan budaya melalui kreativitas masa kini. Keistimewaan tersebut menjadikan Batik Mande Rubiah sebagai salah satu bentuk inovasi pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif masyarakat Pesisir Selatan.
Berawal dari Jejak Sejarah Rumah Gadang Mande Rubiah
Inspirasi Batik Mande Rubiah berasal dari peninggalan sejarah yang tersimpan di Rumah Gadang Mande Rubiah, Lunang. Rumah gadang bersejarah ini dikenal sebagai salah satu tempat penyimpanan berbagai benda pusaka dan peninggalan kebudayaan Minangkabau, termasuk naskah-naskah kuno yang diperkirakan berusia lebih dari dua abad.
Di antara kekayaan peninggalan tersebut terdapat ragam hias atau iluminasi naskah kuno, yaitu ornamen dekoratif yang menghiasi halaman-halaman naskah. Keindahan bentuk dan susunan ornamen inilah yang kemudian menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan motif batik khas Lunang.
Penggalian potensi visual naskah kuno tersebut juga berkaitan dengan kajian filologi oleh akademisi Universitas Andalas, Prof. Pramono. Melalui proses pengembangan kreativitas, ornamen yang sebelumnya hanya dikenal sebagai bagian dari peninggalan manuskrip sejarah mulai diolah menjadi karya seni tekstil yang dapat dikenakan dan dinikmati masyarakat luas.
Pengembangan motif Batik Mande Rubiah mulai dilakukan sekitar tahun 2017 dan diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 24 Agustus 2019. Pada tahap awal, terdapat sekitar 20 potensi motif yang dapat digali dari naskah kuno tersebut, dengan empat motif yang berhasil dikembangkan pada periode awal.
Sebuah gagasan sederhana tetapi memiliki makna besar: menjadikan peninggalan sejarah bukan hanya sesuatu yang disimpan dan dikenang, melainkan warisan yang terus hidup dalam kehidupan masyarakat.
Dewi Hapsari Kurniasih dan Perjalanan Rumah Batik Dewi Busana
Di balik lahirnya Batik Mande Rubiah terdapat sosok Dewi Hapsari Kurniasih, pengusaha sekaligus pengembang batik dari Rumah Batik Dewi Busana Lunang.
Perjalanan Dewi dalam dunia busana berawal dari ketertarikannya terhadap seni tata busana. Ia merupakan lulusan D3 Tata Busana Universitas Negeri Padang tahun 2001. Dengan bekal pendidikan dan pengalaman, Dewi mulai merintis usaha busana serta kerajinan linen rumah tangga pada 2004.
Ketertarikannya terhadap dunia batik kemudian berkembang menjadi usaha yang lebih serius pada 2012, melalui pengembangan produksi batik tulis dan batik cap. Salah satu produk yang dikembangkan pada masa tersebut adalah Batik Tanah Liek Pesisir.
Latar belakang keluarga besarnya yang memiliki tradisi usaha batik di Yogyakarta turut memberikan pengaruh terhadap perjalanan kreatifnya.
Namun, keinginannya tidak berhenti pada pengembangan produk batik semata. Dewi melihat bahwa Lunang memiliki kekayaan sejarah dan kebudayaan yang dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan identitas batik yang khas dan berbeda.
Dari pemikiran itulah Batik Mande Rubiah dikembangkan sebagai karya yang menghubungkan seni batik dengan peninggalan sejarah lokal.
Melalui Rumah Batik Dewi Busana, warisan budaya yang tersimpan dalam naskah kuno mulai diperkenalkan kembali dalam bentuk produk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat modern.
Motif dan Filosofi: Ketika Sejarah Menjadi Keindahan
Keistimewaan utama Batik Mande Rubiah terletak pada sumber inspirasi motifnya. Berbeda dari pengembangan batik yang semata-mata mengambil bentuk flora, fauna, atau geometris, Batik Mande Rubiah mengangkat ragam hias peninggalan manuskrip kuno sebagai sumber penciptaan karya.
Unsur-unsur visual yang menjadi inspirasi pengembangannya antara lain ornamen rumah gadang, rangkiang, benda-benda peninggalan sejarah, serta ragam hias dekoratif yang terdapat dalam iluminasi naskah kuno.
Unsur-unsur tersebut menghadirkan hubungan erat antara karya batik dengan identitas kebudayaan Minangkabau.
Rumah Gadang merepresentasikan identitas arsitektur dan kehidupan masyarakat Minangkabau. Rangkiang mengingatkan pada tradisi penyimpanan hasil panen dan nilai kemandirian masyarakat. Sementara itu, ornamen naskah kuno menjadi simbol keindahan seni, pengetahuan, dan kreativitas para leluhur.
Perpaduan warna seperti oranye dan merah kecokelatan turut memberikan karakter klasik, hangat, dan bersejarah pada sejumlah karya Batik Mande Rubiah.
Lebih dari sekadar keindahan visual, motif-motif tersebut menghadirkan pesan bahwa sejarah tidak harus berhenti sebagai cerita masa lalu. Sejarah dapat diolah menjadi inspirasi yang hidup, berkembang, dan diwariskan kembali kepada generasi berikutnya.
Proses Kreatif dan Pengembangan Produk
Dalam proses produksinya, Rumah Batik Dewi Busana mengembangkan beberapa teknik, di antaranya batik tulis, batik cap, dan printing.
Batik tulis dibuat dengan menggunakan canting secara manual sehingga membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Batik cap menggunakan alat khusus untuk membentuk pola pada kain, sedangkan teknik printing memungkinkan pengembangan produk dalam jumlah lebih besar.
Penggunaan pewarna alam juga menjadi salah satu aspek menarik dalam perjalanan pengembangan batik Dewi Busana. Penelitian akademik yang diterbitkan dalam jurnal Gorga: Jurnal Seni Rupa tahun 2019 mencatat pemanfaatan ekstrak tanaman gambir, baik dari daun maupun rantingnya, sebagai bahan pewarna alami. Proses pewarnaan tersebut menggunakan bahan fiksasi berupa tawas, kapur, dan tunjung.
Inovasi ini memperlihatkan bagaimana potensi sumber daya alam dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan kerajinan batik daerah.
Seiring perkembangan usaha, Batik Mande Rubiah juga diaplikasikan ke dalam berbagai produk, seperti pakaian kasual, busana muslim, seragam resmi, selendang, sarung perempuan, deta atau penutup kepala khas Minangkabau, serta berbagai aksesori berbahan batik.
Dengan demikian, batik ini tidak hanya menjadi karya seni yang dipajang atau dikoleksi, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dari Lunang Menuju Panggung yang Lebih Luas
Perjalanan Batik Mande Rubiah semakin menarik ketika karya tersebut mulai diperkenalkan melalui berbagai kegiatan dan ruang promosi.
Pada September 2019, empat motif awal Batik Mande Rubiah diberitakan tampil dalam ajang New York Fashion Week. Kehadiran tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam memperkenalkan kekayaan motif batik yang bersumber dari sejarah Lunang kepada khalayak yang lebih luas.
Inovasi juga terus dilakukan mengikuti perkembangan zaman. Pada 2020, Dewi mengembangkan motif tematik COVID-19 sebagai bentuk kreativitas sekaligus media sosialisasi kesehatan pada masa pandemi.
Batik Mande Rubiah juga memperoleh perhatian dalam kegiatan pemerintahan daerah. Karya Dewi Busana pernah digunakan sebagai cendera mata khusus pada Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Pesisir Selatan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Pesisir Selatan ke-77.
Berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa Batik Mande Rubiah memiliki potensi untuk menjadi salah satu identitas produk unggulan daerah yang menggabungkan nilai sejarah, seni, budaya, dan ekonomi kreatif.
Menggerakkan Ekonomi dan Memberdayakan Masyarakat
Di balik keindahan sehelai kain batik, terdapat potensi ekonomi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Rumah Batik Dewi Busana tidak hanya berorientasi pada penciptaan produk, tetapi juga membuka peluang pekerjaan dan pengembangan keterampilan masyarakat setempat.
Dalam pemberitaan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan pada Oktober 2019, usaha ini disebut memiliki enam tenaga kerja serta dua tenaga operator mesin printing. Pada periode tersebut, omzet usaha dilaporkan mencapai sekitar Rp75 juta per bulan dari tiga jenis produksi batik yang dikembangkan.
Angka tersebut merupakan catatan historis tahun 2019, bukan data omzet terkini.
Pemasaran produknya juga telah menjangkau sejumlah daerah di luar Sumatera Barat, seperti Jambi, Riau, Bengkulu, Medan, dan Jakarta.
Potensi tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat. Ketika warisan budaya dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, masyarakat tidak hanya memperoleh kebanggaan terhadap identitas daerahnya, tetapi juga peluang untuk meningkatkan kesejahteraan.
Batik Mande Rubiah: Warisan yang Harus Terus Dihidupkan
Batik Mande Rubiah Lunang merupakan contoh bagaimana kekayaan sejarah dapat menjadi sumber inspirasi bagi perkembangan seni dan ekonomi kreatif.
Berawal dari ornamen yang menghiasi lembaran naskah kuno di Rumah Gadang Mande Rubiah, karya ini berkembang menjadi identitas batik yang membawa nama Lunang dan Pesisir Selatan.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan sesuatu dalam bentuk aslinya tanpa perubahan. Pelestarian juga dapat dilakukan melalui inovasi, selama nilai sejarah dan identitas budaya yang menjadi sumbernya tetap dihormati.
Tantangan berikutnya adalah memperkuat dokumentasi sejarah setiap motif, memperluas pengenalan kepada generasi muda, menjaga kualitas produksi, serta mengembangkan pemasaran agar Batik Mande Rubiah semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.
Sebab, warisan budaya yang paling berharga bukan hanya warisan yang berhasil disimpan, melainkan warisan yang terus dipelajari, dikembangkan, digunakan, dan dibanggakan.
Dari Lunang, sebuah pesan budaya hadir melalui sehelai kain: bahwa sejarah tidak pernah benar-benar berlalu selama masih ada generasi yang bersedia merawatnya.
Batik Mande Rubiah Lunang — Dari Naskah Kuno, Menjadi Mahakarya Budaya.
Rumah Batik Dewi Busana Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Referensi dan dokumentasi:
Editor: Mas Endro
#PPID_NagariLunangSelatan
Bagikan:

Nagari Lunang Selatan
Kecamatan Lunang
Kabupaten Pesisir Selatan
Provinsi Sumatera Barat
© 2026 Powered by PT Digital Desa Indonesia
Pengaduan
0
Kunjungan
Hari Ini